Kisah Algojo Pancung Arab Saudi

   Tentang kisah hukuman pancung yang di alami oleh Ruyati binti Satubi saat ini menjadi isu nasional, lalu adakah diantara Anda yang ingin mengetahui siapakah yang menjadi petugas pemancungan tersebut...???
Yang jelas pada umumnya keberadaan kebanyakan Algojo di tiap-tiap tempat tidaklah ingin diketahui oleh orang lain, yah karena dia menyadari bahwa pekerjaannya memiliki efek pada kehidupan sehari-harinya jika banyak orang yang mengetahui.

   Keunikan yang tak banyak terjadi pada seorang yang berprofesi pada bidang yang serupa, seorang Algojo Pancung Arab Saudi tak merasa keberatan diwawancarai dan di amabil gambarnya untuk bahan pembaritaan, yah... inilah yang menjadi keunikan Abdalah Al- bishi yang menjadi salah satu dari sekitar 6 orang yang di tunjuk langsung oleh pemerintah Arab Saudi sebagai petugas Algojo Hukuman Pancung untuk menerapakan hukuman berdasarkan Syari'at Islam.

   Sekitar tahun 2007 lalu, salah satu stasiun TV di Lebanon yakni LBO TV, berhasil malakukan wawancara dengan Algojo yang disebut TERMASYHUR ini, dia bersedia menceritakan serba-serbi dan riwayat kehidupannya sehingga menjadi petugas hukuman pancung.


   Al- Bishi mengungkapkan bahwa ia mewarisi profesi sebagai petugas pemancung dari ayahnya Sa'ad Al- Bishi. Dia menceritakan saat dia mengingat semasa kecilnya pernah menemani sang ayah saat sedang melakukan pemancungan di Mekkah, kemudian pemandangan itu menjadi titik balik kehidupannya.
" Saya saat itu sedang sekolah dan serangkaian eksekusi yang ditangani ayah sedang disiapkan. Tepatnya di depan gerbang King Abdul Aziz. Kami lantas datang." Tutur Al- Bishi saat diwawancarai yang ditemani ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.

   Bicara soal pemancungan, hal pertama kali yang ada di pikirannya saat orang lain bicara tentang pemancungan adalah, tentang organ sistem pencernaan. Nah, saat itu dirinya yang sedang duduk di bangku sekolah sedang mempelajari tentang bagian sistem pencernaan.
" Jadi saya datang menemani ayah menegsekusi orang. Jadi saya ingin melihat (organ) sistem pencernaannya. Namun yang saya lihat adalah kepala manusia yang melayang dan lehernya, kemudian ada pancaran seperti sumur. Dan kemudian jatuh. cukup dan saya tak tahan lagi, " Jelasnya

   Setelah peristiwa, yang kenudian pada malam harinya, Al- Bishi mengalami mimpi buruk,  "Saya mengalami mimpi buruk hanya sekali. Lantas saya jadi terbiasa (melihat pemancungan-red). Segala puji bagi Allah. " Katanya.
Hingga pada suatu saat, sepuluh hari setelah ayahnya meninggal sekitar tahun 1991-1992, dirinya didatngi seseorang yang berkata, " Saya memiliki misi ". Dan Al- Bishi pun diberi tahu bahwa misi itu adalah eksekusi hukuman mati.
" Saya mengatakan no problem. Saat itu saya berusia sekitar 32-35 tahun, " tuturnya.

   Al- Bishi menceritakan bahwa saat itu dia tidak memiliki pedang atau senjata apa pun. jadi dia memakai pedang milik ayahnya. Misi pertamanya adalah memancung 3 orang.
bagaimana perasaan Anda saat itu? dia mengungkapkan " Setiap orang khawatir akan pekerjaan pertamanya. Dan kalau takut dia mungkin gagal. " Jawabnya.
Kemudian seiring berjalannya waktu, sejak saat itu pedang Al- Bishi sudah memancung ratusan orang lebih, dia pun lantas memamerkan pedang-pedangnya. Salah satunya yang dinamai " The Sultan ", pedang yang memiliki ukuran panjang 50 cm ituagak melengkung bilahnya, seperti bulan sabit tua.
Al- Bishi mengatakan, semua pedang yang dimilikinya adalah pedang Jowhar, (salah satu wilayah di Somalia).

   Dia pernah melakukan hukuman pencung terhadap orang-orang yang dikenalinya, bahkan temannya sendiri, tapi ia harus tetap bersikap professional terhadap pekerjaannya dan menegakkan hukum di negaranya, siapa yang melakukan pelanggaran akan kembali pada dirinya sendiri.

   Ketika ditanya apakah sulit memancung orang brjenis kelamin laki-laki atau perempuan, dan apakah ada rasa iba jika memancung terpidana mati perempuan?
Al- Bishi dengan tegas menjawab, " Yang paling sulit memancung orang adalah saat dia tidak bisa mengendalikan kegugupannya. Apakah duduk atau berdiri tegak Kalau saya iba saat saya memancung, dia akan menderita. Kalau hati iba, tangan ini bisa gagal. "
Tak jarang dalam sehari Al- Bishi memancung lebih dari 3 orang, sampai-sampai pegangan tangannya patah.

   Ditanya lagi, apakah ada break sejenak memancung setelah 3-4 kali dalam sehari?
apakah Anda memerlukan jeda untuk mengeksekusi?
" tiga, empat, lima, enam orang tidak ada itu jeda, eksekusi adalah aksekusi, sepanjang orang itu berdiri tegak, itu akan mempermudah kerja kita, " jalasnya.
Selain memancung terpidana mati, Al- Bishi juga melaksanakan hukuman potong tangan dan bagian tubuh lain bagi pelaku pencurian sesuai dengan ketentuan hukum syariat islam.
Al- Bishi mengungkapkan bahwa pada hukuman potong bagian-bagian tubuh ini berbeda dengan hukuman mati.
Pada hukuman potong tangan atau bagian-bagian tubuh lainnya dilakukan pembiusan lokal, lain halnya dengan hukuman mati yang tidk memakai pembiusan lokal saat di pancung., ujarnya.

   Al- Bishi menolak jika pekerjaannya dianggap kejam, berita-berita kekejaman yang berseliweran menurut dia berasal dari rumor. Al- Bishi malah merasa terhormat dengan profesinya itu, dan menganggapnya sebagai bentuk pengabdian untuk Allah.

   Bahkan, dia melatih anak pertamanya, Badr, untuk menggantikannya kelak, sebagaimana dia menggantikan ayahnya. " Segala puji bagi Allah, Badr ditunjuk untuk melakukannya di Riyadh, " jelasnya.

2 comments:

  1. Aku juga pernah memancung ikan lele... Abiz.. lelenya matil tanganku... Sekali tebas pisah endasnya...

    ReplyDelete
  2. hahhahaa,, ada2 aja qmuw tuh,,
    btw, thanks for comment,,

    ReplyDelete